Langsung ke konten utama

Sepenggal cerita lebaran di Payakumbuh

sepenggal cerita  "LEBARAN DI PAYAKUMBUH
Mudik lebaran ke kampung halaman menyimpan semua pesona kenangan masa lalu, segalanya bermula dari kampung, dan ingin sekali mengulang semua cerita masa lalu itu. Ada beberapa potongan lirik lagu minang "lamo" yang menceritakan akan kerinduan kampung halaman " kampuang den jauh di mato, gunung sansai bakuliliang, den takana jo kawan kawan lamo sangkek basuliang suliang, takana jo kampuang, induak ayah, adiak sadonyo raso maimbau-imbau den pulang den takana jo kampuang "
Lagu tersebut menceritakan sebuah kerinduan akan kampung halaman, orang tua, saudara, dan teman semasa kecil yang kini telah beranjak dewasa. Sebuah ungkapan rasa dan syahdunya mengungkapkan rasa rindu yang tertahan entah berapa lama di perantauan, mungkin saja satu tahun, atau dua tahun bahkan ada yang lima kali lebaran yang gak pulang kampung ( koyo bang toyip je ).
Pulang kampung seakan mengingatkan kembali betapa seberapa jauh kaki melangkah mencari ladang penghasilan di perantauan atau bahkan negeri orang, kita akan selalu memiliki "rumah tuo /rumah godang" tempat pulang yang memiliki kehangatan dan penuh suka duka diwaktu kecil. Fenomena mudiak lebaran nan indah ini, orang orang tidak sungkan sungkan dan tidak mengenal lelah untuk menunggangi sepeda motor / mobil beratus kilometer demi lebaran di kampung.
Mudik lebaran di payakumbuh merupakan tradisi yang turun temurun sama umumnya dengan daerah lain di indonesia.

Di payakumbuh moment silaturahmi ini tidak hanya dengan keluarga, silaturahmi dengan satu suku, bahkan suku yang lain, teman2, orang sumando yang bukan orang payakumbuh asli dan lain sebagainya.
Para perantau yang pulang kampung ke payakumbuh disambut dengan perang "bodia bodia botuang", disaat malam takbiran tiba, terangnya api oborpun mengelilingi kampung. Kisah seperti ini tidak bisa ditemukan diperkotaan, unik memang ya itulah payakumbuh beragam cerita disaat lebaran. Bahasa kampung pun disulap menjadi bahasa campur campur seminggu bulan syawal, "ada pulak begitu bagai" masya siy.. " iya benar ceritanya begitu" :-). hadeehhh
" sambia manyalam minum susu" pepatah ini mungkin bisa mewakili untuk orang rantau yang jarang pulang, tidak hanya moment silaturahmi yang didapat disaat mudik lebaran berwisata dan kuliner juga merupakan tradisi dipayakumbuh. Konon ceritanya alam payakumbuh merupakan obat alami untuk menyegarkan pikiran. Tak ayal orang rantau bepergian ke tempat wisata dipayakumbuh dan berkuliner dengan citra rasa kampung.( sabona sero...) Mudah mudahan bisa ketemu lagi dilebaran mendatang.
Saya dan keluarga di Payakumbuh mengucapkan Selamat hari raya idul fitri 1438 H, raih kemenangan dan kembali ke fitrah. Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir dan batin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Spot Selfie terbaru RP-BK Rumah Pohon Bukit Keputusan

Spot selfie yang menjadi primadona saat sekarang adalah Rumah Pohon, tak ayal pemerintah daerah berlomba untuk memamerkan keindahan alam di daerahnya, seperti Rumah Pohon Bukit Keputusan (RP-BK)baru mulai dikenal sebagai salah satu tempat wisata di Tanah Datar Sumatera Barat yang layak dikunjungi. Berlokasi di Di Tabek Patah, sekitar 10 KM dari Kota Batu Sangkar atau lebih kurang 30 KM dari kota Payakumbuh. RP-BK ini menawarkan suasana hijau pegunungan, dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang wisata. Rumah pohon ini sangat cocok untuk keluarga yang ingin berpiknik atau hanya berselfie ria di hijaunya pepohonan yang asri. Cukup dengan membayar tiket masuk seharga 5,000 Rupiah, anda sudah dapat menikmati rindangnya pepohonan dan indahnya pemandangan alam. Sebagai pendatang baru di dunia kepariwisataan, fasilitas yang dimiliki oleh Rumah pohon bukit keputusan sudah sangat mumpuni seperti tempat parkir, mushola, toilet, kawasan bermain, lokasi kemah. Akses menuju RP-BK tida...

Cerita singkat Mesjid Cheng Ho di Kota Palembang

Menginjakkan kaki di kota Palembang, jangan lupa untuk singgah dan melakukan sholat di mesjid cheng ho Palembang. Mesjid ini merupakan mesjid dengan gaya arsitektur China, Arab dan Palembang.Luas bangunan mesjid ini lebih kurang 625 m2,terdiri dari dua lantai, lantai pertama untuk jemaah laki-laki dan lantai kedua untuk jemaah perempuan. Suasana yang tenang dilengkapi dengan perpustakaan dan ruang serba guna, membuat hati merasa nyaman untuk melakukan ibadah.Mata tidak akan merasa mengantuk ketika berada didalam mesjid karena mata kita akan mendapati warna yang dominan merah, warna yang identik dengan kebudayaan Tiongoa. Arsitektur Tionghoanya juga terlihat dari daun pintu yang terdapat pada pintu utama masjid. Pancang-pancang dan ornamen pagar pembatas di bagian atas makin mempercantik tampilan interior masjid yang kental akan nuansa Tionghoa. Berdasarkan tanya jawab dengan penjaga mesjidnya, katanya mesjid cheng ho ini merupakan mesjid Tioangha pertama di Indonesia.Dibangun pada ...

Pakasam Bunda Yeni dari payakumbuh

Selain pakasam terkenal dari suku banjar Kalimantan selatan adalagi pakasam dari payakumbuh Sumatera Barat. Setelah berkeliling Sumatera Barat ternyata pakasam payakumbuh ini adalah khas karna tidak ada didaerah lain, uniknya pakasam ini tidak diperjualbelikan, hanya saja sebagai menu rumahan saja, tetapi rasanya bisa menggoyang lidah dan ketagihan. Kalau pakasam dari banjar merupakan produk bahan makanan yang berasal dari fermentasi ikan air tawar yang rasanya masam dan bahan makanannya dibumbui dengan cabai dan gula. Berbeda dengan pakasam payakumbuh, di Payakumbuh pakasam ini terbuat dari minyak daging atau daging sapi dicampur tepung, cabai giling dan air. Mendengar bahannya dari daging sapi, tentu sangat menggoda dan penasaran untuk mencicipinya. Bagi anda yang hobi masak dirumah, berikut akan saya beberkan resep pakasam dari orang tua saya sendiri dan bisa mencobanya dirmah. Bahan-bahan: 0,5 kg daging Garam secukupnya 1 kg tepung beras 2/3 tepung ketan cabai giling secukup...